28 Desember 2025
Gereja Katolik merayakan Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yosef sebagai sebuah undangan istimewa bagi umat beriman untuk merenungkan panggilan luhur keluarga Kristiani. Dalam suasana Natal yang masih hangat, perayaan ini mengarahkan pandangan kita pada keluarga Nazaret yang sederhana, namun penuh iman, kasih, dan ketaatan kepada kehendak Allah.
Devosi kepada Keluarga Kudus mulai berkembang secara luas pada abad ke-17, seiring kesadaran Gereja akan pentingnya keluarga sebagai dasar kehidupan iman dan masyarakat. Pada akhir abad ke-19, perhatian Gereja semakin besar terhadap tantangan yang dihadapi keluarga-keluarga, terutama akibat perubahan sosial dan budaya.
Sebagai tanggapan pastoral, Paus Leo XIII mendorong penghormatan kepada Keluarga Kudus sebagai teladan bagi keluarga Kristiani. Selanjutnya, pada tahun 1893, Paus Leo XIII secara resmi menetapkan Pesta Keluarga Kudus untuk dirayakan oleh Gereja universal. Penetapan ini bertujuan menegaskan bahwa keluarga Kristiani dipanggil untuk meneladani kehidupan Yesus, Maria, dan Yosef dalam kesederhanaan, kerja keras, kesetiaan, serta penyerahan diri kepada Allah. Dalam kalender liturgi saat ini, Pesta Keluarga Kudus dirayakan pada Hari Minggu dalam Oktaf Natal, atau jika tidak ada hari Minggu, dirayakan pada tanggal 30 Desember.
Keluarga Kudus bukanlah keluarga yang bebas dari tantangan. Maria dan Yosef menghadapi ketidakpastian, pengungsian, dan kesulitan hidup, namun tetap setia pada rencana Allah. Yesus bertumbuh dalam keluarga yang menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan. Dari Keluarga Kudus, kita belajar bahwa kekudusan keluarga tidak terletak pada kesempurnaan, melainkan pada kesediaan untuk saling mengasihi, mendengarkan, dan berjalan bersama dalam iman.
Secara teologis, Keluarga Kudus menjadi gambaran Gereja kecil (Ecclesia Domestica), tempat iman ditumbuhkan, nilai-nilai Injil diajarkan, dan kasih Allah dialami secara nyata dalam keseharian.
Perayaan Ekaristi Pesta Keluarga Kudus di Paroki dan Stasi St Yosep Argosari berlangsung dalam suasana yang khidmat, hangat, dan penuh rasa syukur. Gereja dihiasi dengan dekorasi liturgis yang sederhana namun sarat makna, mengundang umat untuk masuk dalam suasana doa dan permenungan. Doa-doa dan bacaan Kitab Suci mengajak umat untuk merefleksikan kehidupan keluarga masing-masing dalam terang Sabda Allah.
Dalam homilinya, imam menegaskan bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama di mana iman ditanamkan, harapan dipupuk, dan kasih diwujudkan secara konkret.
Perayaan ini semakin bermakna dengan keterlibatan aktif keluarga-keluarga paroki dalam liturgi. Ada keluarga yang bertugas sebagai lektor, pemazmur, pembawa persembahan, maupun petugas koor. Kehadiran anak-anak, orang tua, dan lansia dalam satu perayaan menjadi tanda nyata kebersamaan dan kesatuan umat Allah.
Keterlibatan ini menegaskan bahwa liturgi bukan hanya tugas petugas tertentu, melainkan perayaan iman seluruh umat, khususnya keluarga sebagai jantung kehidupan Gereja.
Melalui Pesta Keluarga Kudus, Gereja mengajak setiap keluarga untuk kembali meneguhkan komitmen hidup bersama dalam kasih, iman, dan kesetiaan. Di tengah tantangan zaman—kesibukan, perbedaan pandangan, dan tekanan hidup—keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadikan doa, dialog, dan pengampunan sebagai bagian dari keseharian.
Semoga teladan Yesus, Maria, dan Yosef menguatkan setiap keluarga di paroki kita untuk menjadi tempat yang aman, penuh kasih, dan bertumbuh dalam iman, sehingga dari keluarga-keluarga yang kudus inilah lahir Gereja yang hidup dan masyarakat yang lebih manusiawi.